? “KENAPA MANUSIA DICIPTAKAN” ***

Seseorang dengan bangga mengaku sebagai seorang  atheis mempertanyakan sejumlah hal tentang “keberadaan Tuhan, tentang seluruh ciptaanNya hingga alasan Tuhan menciptakan Manusia”.

Menurut saudara-atheis ini “Tuhan itu betul-betul hanyalah khayalan belaka karena kegagalan berfikir dan berbagai kegagalan manusia lainnya” . Dia terus bertanya “ dimana Tuhan anda ketika ada jutaan orang miskin dan terlantar , belum juga mendapat pertolongan ?” . Kenapa Tuhan anda tega membiarkan manusia saling bunuh , saling rampas dan saling menzalimi. Kenapa kejahatan manusia demikian bebasnya berbuat sesuka hati , apakah Tuhan anda tak mampu mengatasi itu , ataukah Tuhan itu memang hanyalah khayalan anda belaka ? Dia bercerita banyak tentang sejarah peradaban manusia yang memang penuh dengan pertumpahan darah, kekejaman suatu bangsa terhadap bangsa lainnya dan semuanya berakhir dengan pertanyaan “dimanakah Tuhan-mu ?”

Jadi , kenapa Tuhan menciptakan Manusia  ? . Dia melanjutkan..Baik , anda tentu akan punya banyak alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia , tapi kenapa harus ada yang menderita , kenapa harus ada yang sensara, terbunuh dan korban kejahatan lainnya. Kenapa Dia lakukan itu , bukankah Dia anda sebut Sang Maha Penyayang dan Maha Adil ? , bukankah Dia mampu melakukan apapun yang di-inginkanNya ? , semua pasti mudah bagiNya, tapi kenapa Dia tidak lakukan itu ?

MALAIKAT MENANYAKAN PERTANYAAN YANG SAMA

Sebetulnya pertanyaan Sang-Atheis tadi bukanlah pertanyaan yang baru bagi Islam , dikalangan umat Kristen mungkin agak sulit menjawabnya karena memang tidak tersedia jawaban yang memadai dalam Bible . Sementara dalam Al-Quran Allah.SWT, Rab pencipta Alam Semesta ini dan pencipta manusia itu sendiri yang menjawabnya. Pada saat Allah masih ber-wacana akan menciptakan sepasang makhluk baru yang disebut sebagai manusia , malaikat telah pernah menanyakan pertanyaan ini kepada Tuhan.

QS.2:30 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

 Sepertinya pertanyaan malaikat kepada Allah telah mewakili apa yang dipermasalahkan oleh seorang Atheis tadi : mengapa Tuhan menciptakan Manusia , toh Manusia bisa berbuat yang tidak disukai oleh Allah. Manusia dengan kecerdesan yang dimilikinya bisa berbuat kerusakan apa saja di permukaan bumi. Hari ini kemampuan manusia bisa menjadikan suatu negara menjadi puing debu dan membunuh semua yang hidup di atasnya, dan ini hanya berlangsung dalam hitungan menit. Dari sejak manusia ada selalu terjadi permusuhan antara satu dan yang lain, mereka berkompetisi dalam hal apa saja. Dalam perjalanan sejarah manusia, kita menyaksikan penderitaan dan kezaliman yang tak pernah berhenti. Pertumpahan darah dan pengrusakan bumi mereka lakukan dengan tanpa rasa bersalah , mereka dapat berlaku sebagai pembunuh pembunuh berdarah dingin. Pedang dan senjata manusia selalu berlumuran darah. Semua itu menghantarkan sebagian manusia kepada kebuasan dan rasa puas , dan sebagian lagi menjadi objek kezaliman mereka, luar biasa memang. Mereka tidak mampu berbagi dengan adil , bukankah bumi ini disediakan Tuhan sangat luas , lebih dari cukup untuk tempat tinggal 5 hingga 10 Milyar manusia . Tapi manusia sulit untuk berbagi , mereka ingin menguasai semuanya, keserakahan manusia bahkan melebihi dari binatang buas. Lalu pertanyaannya ,kenapa manusia masih diciptakan juga ?

Atau kalau mau juga diciptakan , kenapa nggak dibikin aja manusia yang “baik-baik” semua , nggak ada yang serakah, semua saling menyayangi, semua damai tanpa ada yang diperebutkan. Tuhan pasti mampu melakukan itu , Tuhan pasti mampu mengontrol seluruh sisi kehidupan manusia , sehingga tak ada yang berlaku zalim kepada pihak lain. Tuhan pasti mampu agar tidak ada yang miskin, agar tak ada yang mati kelaparan , yang terbunuh karena penganiayaan. Dan Tuhan pasti mampu untuk berbuat apa saja . Tapi kenapa ? Tuhan kok.. membiarkan saja semua itu terjadi ?

Kenapa Tuhan membiarkan saja aksi genoside sekelompok manusia terhadap sekelompok lain . Perbudakan bangsa Israel di Mesir& penghancuran Yerusalem dan Perbudakan di Babilonia semua terjadi begitu saja ? Di abad pertengahan ketika jatuhnya Granada di Spanyol , ribuan orang di bunuh dan di usir. Pembantaian Etnis yang satu oleh etnis yang lain terjadi dengan sangat gamblang di hampir semua negara. Di Afrika , Bosnia , Kamboja, Palestina, Myanmar, Tibet, Syria, Irak , Afganistan dan masih ada yang lainnya adalah catatan sejarah tragedi kemanusiaan yang berlumuran dara h. Kenapa Tuhan tega membiarkan ini terjadi ? . Orang-orang yang menjadi korban dalam tragedi itu adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan , apa Tuhan menciptakan mereka hanya untuk mendapatkan takdir itu ?

Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang , Bukankah Tuhan Maha Adil ? . Bukankah ketiga sifat Tuhan yang penting ini terasa kontradiksi dengan fakta sejarah ?

Semua pertanyaan sang atheis yang sangat beruntun ini membutuhkan jawapan yang jelas dan dia tidak ingin jawaban yang mengada-ada, sebagaimana pertanyaannya. Kenapa Manusia diciptakan oleh Tuhan ? , kenapa kita harus hadir ke atas dunia ini ?

Tentu kita akan menjawab ; semua itu terjadi dalam rangka “Tuhan menguji kita” , agar ketahuan mana yang beriman dan mana yang tidak. Tapi pertanyaan berikutnya muncul ; bukankah Tuhan sangat mengetahui siapa-siapa yang tak akan lulus ujian ini ?, yang memang tak bakal lolos kenapa masih diciptakan juga ? , atau bahkan Tuhan pasti mampu agar semua orang bisa lolos , atau diloloskan. Ini memang sesuatu yang tidak sederhana ; untuk itu mari kita bahas secara sistematis.

QS.2:30:. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Tuhan mengetahui sesuatu yang tak diketahui oleh malaikat ; intinya Tuhan ingin meyakinkan malaikat bahwa Dia sadar betul apa yang akan diperbuatNya. Seluruh rencana Allah itu pasti tidak bersifat spekulatif ,  sangat terencana dan tidak satu titik-pun luput dari perhitungan Tuhan. Boleh jadi Tuhan tidak ingin membebani malaikat dengan “berfikir keras” yang tak mungkin mampu  dicernanya, sehingga Tuhan tidak memberikan penjelasan panjang-lebar tentang rencanaNya itu ; “Percaya aja deh sama Aku , Aku tak mungkin Salah” , kira-kira demikian Tuhan ingin meyakinkan malikat.

Yang pasti Tuhan akan menciptakan Makhluk baru yang bertugas sebagai “Khalifah”. Kata ini agak asing terdengar oleh malaikat .., Khalifah ? , istilah “khalifah” atau yang berarti “perwakilan” atau “duta-Tuhan” adalah istilah baru bagi seluruh penduduk surga. Istilah ini bukan sembarangan, tugas ini belum pernah diberikan kepada para malaikat atau kepada Jin atau Iblis yang telah terlebih dulu ada bersama Tuhan di Surga. Malaikat atau Iblis pasti sangat sadar bahwa makhluk baru ini nampaknya disiapkan agar mempunyai kedudukan yang jauh lebih tinggi dari mereka, yaitu Khalifah. Sepertinya tak pernah terlintas dalam fikiran mereka bahwa Tuhan akan menciptakan “WAKIL-NYA” , yang sudah barang tentu akan mempunyai kelebihan dan keistimewaan dibanding dengan mereka yang hanya sekedar pelayan Allah.

Selama ini yang dianggab “Majikan Besar” hanyalah Allah.SWT semata, para malaikat dengan tekun menyembah, melayani, patuh dan taat kepada Sang Majikan yang mereka cintai. Kini di tengah mereka akan hadir “Sang Wakil” yang barang tentu tidak sembarangan makhluk. Sekalipun selama ini yang mereka layani hanyalah “Majikan Besar” , pada saat makhluk baru ini nanti hadir tentu mereka juga akan melayani “sang majikan kecil” ini . Makhluk ini pastilah makhluk yang lebih mulia, makhluk yang punya derjad dan kedudukan yang jauh lebih tinggi dari mereka; sehingga pantas untuk menjadi “Wakil Nya Allah” . Makhluk ini sepertinya akan sangat dekat dengan Tuhan , bagaikan dekatnya seorang Bapak kepada anak-anak yang disayanginya, bahkan Mereka akan saling mencintai ? Sinyal dari Allah kepada malaikat dan iblis tentang sebutan “khalifah” untuk makhluk baru ini ; jelas punya makna yang penting bagi mereka. Malikat tampaknya harus berfikir ; kira-kira apa sih “ke-istimewaan” makhluk-manusia ini sehingga Allah dengan meyakinkan menyebutnya sebagai “Wakil-Nya” , Khalifah ?

Jawapan dari Allah di atas tentu saja belum berarti apa-apa bagi teman-atheis kita tadi , tapi baiklah. Terhadap semua apa yang tengah berkecamuk dalam fikiran malaikat ; Allah ingin memperlihatkan jawapan untuk beberapa hal , mari kita cermati sinyal apa yang sedang diperlihatkan Allah berikut ini.

AKAL , INTELEKTUAL dan PILIHAN (CHOICE)

QS.2:31 Dan Dia mengajarkan(a) kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

QS.2:32 Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

QS.2:33 Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah(a) kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan(b)?”

Terlihat jelas di sini ada DUA (a&b) point penting yang ingin diperlihatkan Allah kepada malaikat ; point pertama Manusia ini diberikan “AKAL & KEBIJAKAN” . Adam punya kemampuan untuk “belajar” , dan setiap proses belajar akan selalu berpotensi untuk “ber-pengetahuan”  . Dan point yang KEDUA , Manusia diberikan “KEBEBASAN MEMILIH” . Kedua point ini jelas tidak dimiliki oleh para malaikat , dan kesempurnaan tentang “Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” itu tentu hanya milik Allah.

Akal Fikiran yang dimiliki oleh para malaikat hanyalah akal yang bersifat pasif , tak ubahnya seperti akal robot yang bekerja sesuai settingan penciptanya. Bahkan mereka tak punya “PILIHAN” kecuali pilihan yang telah di setting oleh Allah. Dengan demikian jadilah makhluk malaikat itu sesuai dengan settingan Penciptanya , mereka patuh dan taat kepada Majikannya karena memang disetting seperti itu. Malaikat tak punya pilihan dan tidak punya kemampuan untuk melakukan improvisasi ataupun inisiatif sendiri, mereka beraktifitas sesuai dengan perintah remot yang datang dari Allah.

Lain halnya dengan Manusia ,  “Akal & Kebijakan” yang dimiliki oleh Manusia adalah sesuatu yang dinamis, aktif dan progresif. Bila dipasangkan dengan “Free-Choice” yang juga diberikan Allah kepada Manusia ; maka kedua point ini akan berpotensi sangat hebat yang mampu melahirkan karya-karya besar, kemampuan me-ngontrol makhluk ciptaan lainnya. Manusia adalah makhluk yang sangat dinamis dan bahkan progresif , mereka adalah kreator-kreator hebat di permukaan Bumi.

Sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan Manusia berawal dari instrumen akal, proses belajar , intelektual & free-choise ini , pengalaman dan tantangan alam menjadi pemicu terbangunnya ilmu-pengetahuan secara progresif . Manusia dalam batasan tertentu telah menjadi kreator dan developer ilmu & tekhnologi yang mencengangkan para malaikat pada era milenium ini. Bagaikan satu tetes air bahkan kurang dari itu telah diberikan Tuhan kepada Manusia, dengan modal ini manusia akan dapat belajar dari alam semesta, melakukan experimen, merumuskan banyak hal dan membangun ilmu-pengetahuan. Namun sekalipun se-tetes saja , Manusia telah layak untuk ber-status makhluk yang paling istimewa dari semua ciptaan Tuhan, sekalipun se-tetes saja Manusia telah memiliki beberapa hal yang mirip dengan apa yang dimiliki Allah. Sementara makhluk lain tidak akan pernah memiliki ilmu , kemampuan kreasi dan intelektual yang terus berkembang sebagaimana yang dimiliki Manusia.

FITRAH MANUSIA (Sifat-sifat Kemulian & Luhur dari Allah)

Qs. 30:30 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak (boleh) ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Pada saat Tuhan menghidupkan Jasad Adam dengan meniupkan Roh milik-Nya kepada Adam. Roh itu tidak hanya mengandung “Energi Kehidupan” , namun Roh itu juga ditanamkan dengan se-tetes lagi “Sifat-sifat Kemulian & Luhur” dari Allah. Sifat-sifat Mulia yang pada hakekatnya adalah milik Allah itu terinstal secara default di dalam Roh Manusia. Inilah yang disebut dalam Al-Quran sebagai “fitrah” . Pada saat kita masih kanak-kanak yang masih polos , fitrah manusia masih terjaga kesuciannya, anda belum pandai berbohong dan tidak menyukai kejahatan. Manusia diperintah untuk tetap komitmen menjaga dan memelihara existensi fitrah tersebut.

Cinta-kasih (penyayang), pemurah, adil, jujur, memimpin, peduli, patuh & cinta kepada Allah, kreatif, memelihara, mengatur dan banyak lagi Sifat Allah yang Mulia adalah fitrah manusia, terinstal secara default di dalam Roh-Adam.

Dari semua penjelasan di atas dapat kita simpulkan ; pada tahap pertama penciptaan Adam(Manusia), yang dilanjutkan dengan kehadiran sang pasangan yang bernama “Hawa” , mereka telah diberikan 3 point istimewa yang tidak diberikan Allah kepada seluruh makhluk ciptaanNya yang lain termasuk malaikat , yaitu :

  1. Akal & Intelektual
  2. Free Choice (Kebebasan Memilih)
  3. Sifat-sifat Kemulian & Luhur dari Allah, Fitrah Manusia ( Default-Value)

Ketiga point inilah yang menghantarkan “Sepasang Makhluk” baru ini pantas untuk bisa se-Rumah dengan Allah , bahkan akan berstatus “majikan kecil” bersama “Sang Pemilik” . Kedekatan Allah dengan para wakil-wakil Nya ini bagaikan kedekatan antara Bapak dan anak-anak yang saling mencintai. Sementara Malaikat dan seluruh makhluk lainnya akan tetap setia dan patuh sesuai settingan sebagai pelayan bagi Allah, dan tentu saja termasuk para Khalifah-khalifah Nya.

Qs.2:34 Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Sujudlah kamu kepada Adam !” . Pada awalnya mungkin mereka kaget mendengar perintah ini, namun beberapa saat kemudian para malaikat dan iblis telah mulai mengerti dengan maksud adegan ini ; sejak mereka diciptakan ,inilah kali pertama mereka di perintah Allah untuk “sujud” kepada selain-Nya. Seluruh tekateki yang berkecamuk di kepala mereka telah terjawab dengan sangat explisit. Allah telah memberikan sinyal yang terang benderang kepada mereka tentang “status & kedudukan” sepasang makhluk ini di dalam Kerajaan Mahabesar Allah di Alam semesta ini.

Mari kita lanjutkan episode “kisah penciptaan manusia” yang di-sekenario oleh Tuhan dengan sangat sempurna.

Qs.2:35 Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Kisah ini akan semakin menarik , apabila anda perhatikan kata demi kata dari kalimat Allah di atas ; terlihat jelas bahwa Allah memberikan fasilitas yang demikian besar kepada se-pasang makhluk baru ini . Sorga yang luasnya seluas langit dan bumi serta dipenuhi dengan segala ke-indahan dan kenikmatan yang tak ada batasnya ; Allah Cuma mensyaratkan satu hal yang sangat sepele. Apa sulitnya bagi mereka untuk tidak mendekati pohon itu ? , sekali lagi ini hanyalah semacam syarat yang tidak serius dari Allah. Sangat tidak sebanding pemberian yang diberikan Allah dengan syarat yang terkesan seperti main-main dan sangat sepele.

Qs.2:36 Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

Ini akan lebih menarik lagi untuk kita bahas ; bayangkan Iblis yang baru saja mendeklarasikan ke-kafirannya kepada Tuhan , dan berhasil membuat MOU dengan Tuhan untuk menghabiskan hidupnya guna menyesatkan Adam dan keturunannya. Tidak butuh waktu lama ia telah berhasil dengan gemilang menyesatkan kedua manusia yang masih lugu ini. Tanpaknya pemberian Tuhan untuk point No.2 Free Choice telah mulai di-praktek kan  , tapi justru jadi sumber masalah yang menyebabkan Sepasang Manusia Muda ini “tergelincir” . Terhadap bujukan Iblis ; Adam dihadapkan kepada dua pilihan yang kontradiktif , Allah memerintahkan agar jangan mendekat , tetapi Iblis malah membujuknya agar memakan buah yang terlarang itu.

Qs.2:38 Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Setelah menyadari bahwa mereka baru saja tergelincir dan melanggar perintah sepele yang disyaratkan Allah , mereka terpana seakan tak percaya akan apa yang telah dilakukannya. Sebagai sepasang yang masih muda dan lugu ; mereka sangat kebingungan dengan hukuman yang akan diterimanya. Mereka akan di-kirim ke sebuah planet Bumi yang entah dimana, mereka sangat khawatir dan takut membayangkan tempat tinggal baru. Sedikitpun mereka tak punya pengetahuan , apalagi pengalaman tentang bagaimana nanti hidup di sana. Sepasang manusia ini tampak bingung , pasrah dan tak tahu lagi apa yang akan di-mohonkan kepada Tuhan. Yang pasti mereka terlihat sangat menyesal dan tak sanggub memandang kepada siapapun karena saking malunya, mereka sangat bodoh dan ceroboh karena pelanggaran yang mereka lakukan adalah hal yang sangat mudah untuk di-hindari.

Tuhan agaknya tidak membiarkan mereka terlalu larut dalam ke-khawatiran. Allah seakan ingin memberikan keyakinan kepada mereka ; bahwa “kalian tak perlu khawatir, kalian pasti akan kembali ke sini lagi, di sana itu kalian cuma sebentar saja , tak akan lama. Lagipula disana telah Kami sediakan tempat tinggal yang nyaman, kalian juga bisa bersenang-senang di situ “ . Namun sekali lagi Allah membuat syarat penting untuk mereka : “Sepanjang kalian IKUT PETUNJUK-PETUNJUK KU , selama di sana kalian pasti akan selamat, dan kalian Aku jamin akan kembali ke SINI lagi”

Perlu kita ingatkan kembali , bahwa baik point No.1 , point No.2 maupun point  No.3 diberikan Tuhan kepada Adam hanyalah “se-tetes” saja , atau katakanlah bahwa yang dianugerahkan itu hanyalah “benih” . Ketiga point itu adalah sesuatu yang sangat dinamis , point-point ini pasti memiliki “nilai” ; masing-masing nilai bisa merangkak naik atau bahkan bisa terhempas turun sampai ke angka minus.

Ada baiknya saya membuat analogi matematik sederhana begini : Ketika Allah memberikan 3-point Variabel Keistimewaan tersebut kepada Adam-Hawa, sehingga menempatkan mereka pantas untuk mendapatkan Status Khalifah(Sang Wakil), serta pantas tinggal se-Rumah dengan Sang Pemilik Yang Maha Agung. Nilai dari ke-tiga point itu masih bernilai 1(satu) atau katakanlah masih bernilai awal  atau “default” , nilai yang diberikan pabrik.

(ANALOGI) TABEL ILUSTRASI: Perjalanan Adam dari Awal > Bumi     > Akhir , & Perolehan Akumulasi-Nilai di akhir kehidupan : 

Tabel di atas hanyalah sebuah analogi untuk memudahkan pemahaman kita tentang “konsep”  3-Point anugerah Tuhan kepada Manusia Adam . Ketika Adam baru diciptakan ,ketiga point ini masih bernilai default atau “1” .  Perintah Tuhan agar Adam tidak mendekati sebuah pohon , kemudian berhadapan dengan bujukan Iblis agar mereka mau memakan buahnya ; adalah Ujian Perdana bagi Adam&Hawa agar mampu meningkatkan Nilai(1) itu menjadi lebih dari itu. Atau paling tidak mereka mampu mempertahankan dan memelihara Nilai(1) tersebut, jangan sampai berkurang dari keadaan semula. Namun yang terjadi justru sebaliknya, akal dan pilihannya tidak bekerja dengan baik , sehingga untuk ujian perdana ini Adam mendapatkan Nilai -1 ,  -1, +1. Dia masih beruntung karena masih punya banyak waktu untuk mengerjakan soal-soal berikutnya , tentu dengan cara yang akan jauh lebih cermat dan teliti.

KENAPA HARUS DI UJI ? , KENAPA UJIANNYA HARUS DI BUMI ?

Di dalam diri malaikat ; Kepatuhan , ketaatan dan kecintaan Malaikat kepada Tuhan adalah sesuatu yang tak perlu di Uji , alasannya adalah karena mereka tidak diberi pilihan (No Choice). Seluruh sifat mulia yang ada pada malaikat semuanya adalah “settingan yang statis” , tak akan pernah berubah , tak akan naik ataupun turun. Ini pulalah alasannya kenapa mereka ditempatkan untuk tugas “pelayanan”

Berbeda dengan Manusia , mereka mempunyai kewenangan memilih ; untuk pertamakalinya Adam telah menerapkan hak-pilihnya ketika di hadapkan kepada dua-pilihan yang saling bertentangan. Adam salah pilih , mungkin karena masih lugu dan belum punya pengalaman apapun. Andaikata dalam periode tertentu yang telah ditetapkan Allah ; Adam masih saja secara terus-menerus “salah-pilih”  dan berulang terus hingga waktunya habis , tentu “Jabatan-Khalifah” yang telah disematkan kepadanya akan dicabut oleh Allah. Dan resiko yang akan diterima oleh manusia ini telah menanti dengan setimpal, dan ini adalah sangat adil. Untungnya di dalam Al-Quran , Allah telah memberitakan bahwa selama periode yang telah ditetapkan Tuhan untuk Adam, mereka telah menjalankannya dengan baik, mereka telah dinyatakan lolos dalam ujian tersebut. Boleh jadi ketika hidupnya telah berakhir, Nilai Akumulasinya telah mencapai +300, +300 dan +300 untuk ketiga variabel yang kita sebutkan tadi, yang pada awalnya hanya +1, +1 dan +1 . Adam & Hawa dinyatakan oleh Allah “lulus” dengan nilai yang memuaskan (hanya ilustrasi).

Qs.2:36 ……………..sebagian kamu akan menjadi musuh bagi yang lain, …………………

“sebagian kamu akan menjadi musuh(kompetitor) bagi yang lain” : anda boleh saja berfikir bahwa ini adalah kutukan atau sangsi untuk keturunan Adam karena pelanggarannya. Tapi kalau kita cermati kata demi kata dari kalimat Allah ini , apalagi frasa-frasa sesudahnya ; maka ini tidak lain hanyalah sebuah “kondisi kompetitif” yang akan diciptakan, bukan musuh dalam arti yang harfiah. Situasi dimana sekelompok manusia selalu dihadapkan kepada keadaan yang berpotensi kompetitif. Kompetisi mulai dari hal yang kecil hingga kepada hal besar yang bahkan melibatkan suatu bangsa dengan bangsa lain. Kondisi inilah nanti yang akan menjadi “paradoks” utama bagi ke-tiga point anugerah Tuhan sebagaimana di atas.

Sementara arti “musuh” secara harfiah ditegaskan Allah tidak kurang dari se-belas kali dalam Al-Quran, QS.2:168, QS.2:208, QS.6:142,QS.7:22,QS.12:5, QS.18:50,QS.20:117, QS.28:15, QS.35:6, QS.36:60, QS.43:62 : “……..sesungguhnya syetan(iblis) adalah musuh yang nyata bagimu…………”

QS.5:2 Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran

Skenario Allah kenapa ujiannya harus di Bumi ?  Kondisi paradox yang kita gambarkan tadi tentu saja akan berpotensi melahirkan sangat banyak materi-materi soal ujian untuk disajikan kepada seluruh manusia. Skenario Allah dalam menciptakan “paradox” dan “kompetitif” inilah yang nantinya yang akan menempatkan sekelompok orang menjadi kaya dan sekelompok lainnya menjadi miskin. Bumi memang telah dipersiapkan dan tersedianya ribuan bahkan jutaan jenis “soal-soal ujian” , dalam beragam versi. Soal Ujian seperti ; kekayaan, kemiskinan , kebahagiaan, kesenangan, kepedihan, kesedihan, ketidak-adilan, kesenjangan , pembangkangan, penganiayaan, kezaliman, kekuasaan dan ada ribuan soal ujian lagi bahkan lebih yang terus bertebaran di muka bumi. Soal ujian seperti ini tentu tidak akan pernah kita temukan di Sorga . Inilah alasannya kenapa Bumi sering disebut tempat persinggahan semata , hanya kelas lokal-ujian dimana kita akan segera keluar lagi setelah menyelesaikan soal-soal untuk waktu 2 jam saja.

RASA & PENGALAMAN (experience)

Ingatlah , bahwa ke-tiga point yang telah di berikan Allah untuk Manusia tersebut adalah sesuatu yang juga dimiliki Allah. Dengan ukuran yang Maha Tinggi , Allah adalah pemilik asli bahkan sumber dari ke-tiga point ini  ; Akal & Intelektual , Free Choise (Kebebasan Memilih), Sifat Kemulian & Luhur. Ketahuilah bahwa selain bernilai Maha Tinggi , ke-tiga point yang ada dalam diri Allah tersebut telah maha kaya dengan rasa & pengalaman.

Kita telah mengetahui bahwa dalam diri Adam juga telah terinstal sifat  “penyabar , mengasihi, memelihara , suka ber-kreasi, adil , jujur, penyayang” dan banyak sifat mulia Allah yang telah hadir dalam diri Adam. Namun semua itu tidak akan berarti apa-apa ketika Adam berada di Sorga. Anda memang telah disetting untuk menyukai dan gemar dengan buah  durian , sayangnya anda belum pernah ketemu durian sehingga “nikmat durian” itu belum pernah anda rasakan. Demikian juga dengan Adam , dia memang telah diberikan “sifat menolong” , namun dia belum pernah merasakan seperti apa rasanya melakukan pertolongan itu. Dia memang telah diberikan kecendrungan untuk berlaku “adil” , namun dia belum pernah dihadapkan kepada ke-tidak adilan , dia belum merasakan apa “keadilan” itu. Adam belum punya satupun PENGALAMAN (experience) tentang seluruh sifat kemuliaan yang ada dalam dirinya , dia juga belum tahu seperti apa “rasa mengasihi” itu. Pendek kata seluruh sifat mulia dari Allah yang hadir dalam diri Adam , masih blank alias NOL dari praktek dan pengalaman.

Itulah sebabnya ketika Adam membuka mata untuk pertama kalinya, sesaat setelah jasadnya ditiupkan roh , dia tidak memberikan respon apa-apa. Bisa anda bayangkan sorga yang serba gemerlap dan kemegahan , penuh dengan keindahan dan fasilitas yang tak terungkapkan, tergambar kenikmatan yang sulit dilukiskan ; apakah Adam ketika menyaksikan itu langsung terpesona ? , apa dia terkagum-kagum ? atau dia tersenyum bahagia dan langsung sujud syukur ? . Tidak , Adam tidak menunjukkan respon apapun , karena dia tidak memiliki memori selain apa yang tengah disaksikannya waktu itu. Akan berbeda halnya dengan anda kalau misalnya kita yang di bawa traveling ke sorga ; Anda pasti akan “terpana, wah… ! , luar biasa…..hebat , bukan main..” , dan bibir anda pasti tak akan berhenti untuk terus berseru tanda decak kekaguman yang luarbiasa, anda pasti akan melakukan sujud syukur berkali-kali. Semua itu bisa terjadi karena anda melihat “perbedaan” yang sangat kontras dengan seluruh memori anda ketika membandingkan suasana sorga dengan keadaan di Bumi.

Anda bisa kenal dengan warna putih karena anda tahu dengan warna hitam. Ketika anda mengatakan sesuatu rasanya manis , karena anda telah pernah merasakan pahit. Anda bisa mengatakan seseorang kaya karena di tempat lain anda mengenal adanya orang miskin. Anda bisa melihat seseorang sedang bersedih karena anda tahu seperti apa orang yang sedang berbahagia , dan demikianlah seterusnya. Adam masih “blank” tentang itu semua.

MENCINTAI ALLAH

Ini adalah bagian terakhir dari seluruh jawaban kita terhadap pertanyaan teman-atheis kita tadi.  Ketahuilah bahwa ketika Adam & Hawa telah hadir di sorga, Allah sangat MENCINTAI mereka tanpa reserve , tanpa syarat. Ketika Adam telah tergelincir melanggar perintah Allah sekalipun , Dia masih tetap mencintai Adam. Semua manusia yang dilahirkan ke permukaan bumi ini adalah dalam posisi DICINTAI oleh Allah. Hubungan CINTA antara manusia dan Tuhan , datangnya terlebih dahulu justru dari Allah. Yang jadi soal adalah , apakah CINTA yang sangat besar dari Allah ini mendapat balasan yang baik dari “sang-Manusia” itu. Apabila manusia tidak membalas Cinta Allah , maka dapat dikatakan bahwa Cinta Allah hanyalah bertepuk sebelah tangan.  Dan ingat ; Allah sendiri telah memberikan Free-Choise kepada anda, Allah tidak akan memaksa anda untuk harus mencintaiNya. Berpura-pura cinta pun Allah tidak akan mau, karena itu hanyalah cinta yang palsu. Seperti halnya manusia , Allah tentu menginginkan Cinta yang Sejati , Cinta yang murni. Alasannya tentu sangat jelas, bahwa anda akan di-dudukkan sebagai “wakil-Nya (khalifah)” di Bumi , dan anda akan hidup dan menetap selamanya  “se-rumah” dengan Sang Pencipta yang pernah anda wakili. Dan lazim dalam sebuah keluarga besar, sesama anggota keluarga saling mencintai. Pendek kata , Cinta Allah jangan di tolak , kita semua harus membalas pula dengan Cinta yang lebih kepada Allah.

Sejarah Iblis menjadi pelajaran berharga untuk soal cinta kepada Allah ini ; karena Iblis melawan perintah Allah dengan cara terang-terangan di hadapan Allah. Kebencian Iblis kepada Adam , kesombongan dan ego yang amat dahsyad telah mengalahkan “cinta-iblis” kepada Allah. Iblis rela melepas kecintaannya kepada Tuhan karena dorongan Kesombongan dan Kebenciannya kepada Adam. Untuk persoalan “cinta” ini hukuman Allah agak lebih serius dibanding yang lain, Tuhan menghukum Iblis dengan kutukan dan kekafiran, suatu hukuman yang terberat di alam semesta ini.

Bandingkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam , Allah menyebut pelanggaran mereka hanya “di-gelincirkan” oleh Iblis , ini bukan pelanggaran yang serius , tidak pelanggaran yang disengaja apalagi pelanggaran yang bersifat menentang. Ini cuma sekedar slip , dan sama sekali tidak terkait dengan soal cinta kepada Allah. Di kemudian hari terbukti ; Adam tak henti-hentinya menangis dan bertobat menyesali persoalan  “tergelincir” ini.

Manusia yang melawan dengan cara terang-terangan kepada Allah , tentu akan membuktikan ke-tidak cintaan mereka,  dan sudah barang tentu akan mendapat sangsi yang sama dengan Iblis, mereka akan dikutuk Allah dan di-cap Kafir oleh Allah.

Apabila anda baca sejarah bangsa Yahudi , baik di Al-Quran terlebih lagi di Al-Kitab Perjanjian Lama ; adegan perlawanan kepada Allah secara terang-terangan akan banyak anda jumpai. Dari frasa kalimat, tutur kata dan sikap yang mereka tampilkan dalam berbagai dialog & adegan ; mereka tidak saja benci kepada Nabi dan manusia lainnya bahkan mereka menyatakan kebenciannya kepada Tuhan, sekalipun mereka tetap berusaha membungkus kebencian itu. Talmud , kitab suci orang Yahudi yang di-klaim bersandarkan kepada Taurat adalah bukti perlawanan terang-terangan mereka kepada Allah. Dan untuk semua itu , Allah telah mengutuk mereka dengan kekafiran.

QS.2:39 Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Tujuan Allah menciptakan Manusia tak lain adalah untuk mengisi penghuni Sorga , mereka akan mendapat pelayanan yang sempurna dari para malaikat . Allah sendiri & para Malaikat  justru tidak membutuhkan Sorga itu . Sorga tidak akan diciptakan kalau calon penghuninya tidak diciptakan , dan mereka adalah makhluk yang disebut Manusia. Hanya saja , Manusia yang akan ditempatkan Allah adalah orang yang berhasil mempertahankan & memelihara  fitrah-nya, dan tentu saja telah dapat membuktikan “Cinta Sejatinya” kepada Allah.

***Dr.Elfiedi Sofyan

Berikan Komentar Anda

About Author:

www.akalsehatku.com