JAMINAN KESELAMATAN PASTI , ala SAIFUDDIN IBRAHIM ***

Dr.Elfiedi Sofyan***

Saifuddin Ibrahim punya satu alasan lain kenapa ia harus meninggalkan Islam. Yaitu tentang “Jaminan Keselamatan Pasti” yang dijanjikan oleh Tuhan-baru nya Yesus. Jaminan keselamatan itu diperoleh melalui “Pengorbanan Tuhan” yang langsung turun ke Bumi sebagai tebusan untuk dosa-dosa manusia, termasuk dosa Saifuddin Ibrahim. Saya punya dua gambaran mozaik yang keduanya diambil dari ayat-ayat dalam Al-Kitab.

Dalam doktrin Kristen ; manusia disebut telah mewariskan dosa-dosa Nenek Moyang mereka termasuk dosa Adam dan Hawa. Alhasil manusia yang hidup dipermukaan bumi ini tidak ada yang terbebas dari dosa , termasuk para nabi-nabi yang telah diutus oleh Tuhan, semua dalam keadaan berdosa. Al-Kitab menceritakan bahwa waktu(deadline) “kerajaan sorga” (pen: waktu penghakiman) sudah semakin dekat, artinya manusia dalam keadaan yang genting untuk selamat dari dosa, mereka tidak punya cukup waktu lagi untuk membebaskan diri dari dosa. Setidaknya inilah cuplikan fikiran yang mempengaruhi para penulis injil di abad pertama pasca cerita kebangkitan Yesus.

Boleh jadi dalam fikiran mereka ,Tuhan telah berkesimpulan ; bahwa ratusan Nabi-Nabi yang telah diutus Tuhan ke Bumi sebelum Yesus , dalam rentang waktu ribuan tahun telah mengalami kegagalan total.  Misi yang di-emban oleh para Nabi ini untuk meminimalisir dosa manusia agaknya tidak berjalan sesuai rencana Tuhan. Melihat keadaan ini ; tak ada pilihan bagi Tuhan Yang Maha Kasih selain menurunkan “obat-pamungkas” agar manusia bisa ter-bebas dari penyakit-dosa. Dan cara yang praktis sekaligus efektif itu adalah dengan strategi “pengampunan dosa secara masal” . Pemikiran-pemikiran  seperti ini setidaknya tergambar dalam surat-surat Paulus kepada jemaat yang tinggal di Roma (Rom-7:5-6)

Tuhan kemudian membongkar “rahasia-Nya” kepada manusia bahwa selama ini, Dia ternyata memiliki seorang Putra tunggal. Rahasia yang selama ribuan tahun tersimpan rapi ; kepada Adam , Idris, Nuh , Ibrahim, Musa , Daud , Sulaiman dan ratusan Nabi lainnya, rahasia ini tidak pernah diungkap Tuhan. Karena faktanya mereka(para nabi) tak pernah kenal dengan yang nama-nya Yesus sebagai Putra Tunggal Allah , maka selama hidupnya mereka hanya menyembah SATU Tuhan saja , yaitu Allah , Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Al-Kitab dengan jelas meng-informasikan kepada kita; bahwa putra tunggal Tuhan itu tak lain adalah Yesus, yang lahir dari rahim seorang manusia perawan bernama Maria. Al-Kitab berusaha meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Putra Tunggal dari Allah . Selain sebagai putra tunggal ; Yesus juga disebut sebagai “Firman Allah” dalam wujud manusia , ucapan-lisan dari Allah yang berubah wujud menjadi manusia. Di penghujung hikayat Yesus , dia ditetapkan oleh para muridnya sebagai Tuhan. Peningkatan status Yesus ini berdampak secara otomatis kepada status para muridnya, yang ikut naik peringkat. Mereka yang tadinya hanya berstatus sebagai pengikut/murid kini otomatis ikut naik pangkat menjadi Rasul. Seluruh ucapan para murid ini tak bisa diperdebatkan lagi ; karena didalam dirinya telah ter-tanam “Roh Kudus” yang tak lain adalah jelmaan lain dari Tuhan.

Untuk menjalankan misi pengampunan dosa ;Tuhan Bapa akhirnya memutuskan untuk menjadikan Putra-Tunggal-Nya sebagai tumbal “korban-tebusan” untuk melunaskan hutang dosa manusia kepada diri-Nya. Allah kemudian mengutus “Sang Putra” ke bumi untuk sebuah misi besar yang disebut dalam Al-Kitab sebagai “misi Pengampunan Dosa” . Dengan mengorbankan Putra Nya ; maka transaksi “penebusan dosa” umat manusia dapat dituntaskan sebelum hari penghakiman datang.

Harus dicatat, bahwa proses pelaksanaan misi Tuhan untuk pengampunan dosa manusia tidaklah sesederhana fikiran banyak orang. Tuhan memulai perjalananNya dari sorga ke bumi dengan cara yang tidak wajar ; Dia harus membiarkan diri-Nya menjadi Zygot yang kemudian berkembang menjadi Janin dan bertahan selama 9 bulan di dalam rahim Maria. Tuhan harus melanjutkan kehidupanNya sebagai layaknya manusia kebanyakan dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan. Ia dilahirkan sebagai bayi , balita dan terus tumbuh kembang di tengah keluarga Maria hingga usia mencapai 29 tahun. Berselang hanya sekitar 3 tahun setelah Ia di babtis, Ia lalu memberikan diri-Nya ke tangan manusia untuk dijadikan tumbal penebus dosa manusia. Pada saat itu kedudukan Yesus masih sebagai Putra Allah yang berwujud manusia.

Korban Tebusan Dosa yang akan dijalani Yesus tampaknya sangat berat bagi Yesus. Detik-detik terakhir sebelum Yesus ditangkap, ia terlihat oleh para muridnya sangat pucat , sangat ketakutan, keringatnya keluar bagaikan titik-titik darah (Luk-22:44) ; ia terus berdo’a kepada Allah agar terbebas dari hukuman salib yang amat menakutkan itu, ia berkali-kali berdo’a untuk hal ini (Mat-26: 36-44 ) . Kalaulah Allah mengabulkan do’a Yesus ini , tentulah Yesus tidak akan mengalami kematian mengenaskan di tiang salib. Tapi Sang Bapa sudah memutuskan , perintahNya harus digenabkan dan Do’a Yesus harus ditolak , sehingga akhirnya ia harus menderita dan mati di tiang salib.

Episode berikutnya pasca kematian Yesus di tiang salib , ia hidup kembali pada hari ketiga dan menampakkan dirinya kepada para muridnya. Tampaknya peristiwa “Yesus Hidup kembali dari kematiaannya” ; telah membalikkan semangat para murid yang sedang tenggelam dalam kesedihan dan nyaris berputus asa. Dengan kejadian itu para murid dibuat terkesima , melongo dan tentu saja larut dalam sukacita. Akhirnya mereka sepakat menggeser Status Yesus yang tadi hanya sekedar Putra Allah , setelah kejadian spektakuler itu Yesus kini dinobatkan menjadi Sang Bapa (=Tuhan).

Dengan demikian Allah telah membongkar rahasia-Nya untuk ke-2 kalinya kepada para murid , bahwa sebenarnya “sang Putra itu adalah Allah itu sendiri” . Yesus yang selama ini mereka yakini sebagai Mesias , Nabi , kemudian meningkat menjadi Putra tunggal dari Allah , dan kini ditingkatkan lagi Yesus sebagai Tuhan. Maria sebagai ibundanya Yesus pasti tak bisa tidur membayangkan ; janin yang dulu pernah ada 9 bulan dalam rahimnya , kemudian bayi itu dilahirkannya, yang menyusu kepadanya…, ternyata adalah “Tuhan !?” . Yesus kecil yang lucu dan menggemaskan saat Maria mengasuh sang bayi dan balita ; siapa sangka di kemudian hari ternyata dia adalah Tuhan ? , Sang Pencipta Alam semesta !

Cerita di atas adalah sebuah resume sederhana terhadap sekumpulan pragraf-pragraf di Al Kitab, yang membentuk sebuah montase atau mozaik sehingga me-mudahkan pembaca untuk mencerna. Secara nyata cerita di atas memang sangat bertentangan dengan “akal-sehat” manusia , akibatnya cerita dari para penulis Al-Kitab ini tak pernah sepi dari kritik para ahli sejarah, antropolog , arkeolog dan saintist modern hingga hari ini. Para apolog Kristen dibuat sibuk untuk membangun berbagai argumentasi agar mozaik di atas bisa tampil dan terlihat ilmiah. Begitu banyak kita temukan karya-karya apolog Kristen yang ke-semuanya berupaya menyusun argumentasi untuk menangkis berbagai serangan dari para kritikus tadi.

Dalam cerita di atas terkesan sangat jelas ; bahwa sang pemilik ampunan itu bukan Allah. Dia(Allah) digambarkan sebagai Sosok yang tak punya kuasa untuk mengampuni dosa manusia . Buktinya ,Allah terkesan berusaha luar biasa untuk memenuhi syarat untuk sekedar memberi pengampunan dosa untuk manusia . Allah membayar syarat itu dengan mengorbankan sang Putra Tunggal-Nya. Allah telah membiarkan diriNya mengalami proses biologi-manusia tumbuh kembang mulai dari Janin hingga manusia dewasa selama 33 tahun. Allah juga harus menolak permohonan putra-Nya yang setengah mati ketakutan minta dihindarkan dari ancaman Yahudi. Pertanyaannya ,siapakah yang menuntut syarat kepada Allah agar Dia harus membayar dengan memberikan korban Putra-Nya ?, dan siapakah gerangan “sosok” sang Penerima Tebusan itu ?. Dalam hukum akal sehat ; orang yang akan menerima tebusan pasti bukan orang yang memberikan. Namun begitulah cerita yang dituliskan oleh para pengarang Injil ini.

Dalam transaksi yang sangat tak wajar ini ; manusia berada pada posisi yang sangat “cerdas” dan paling diuntungkan. Lebih jauh cerita ini memberi kesan seakan Tuhan telah di-kelabui oleh hamba-manusia yang bergelimang dosa itu. Bayangkan, Tuhan telah mengalami triple-lost gara-gara dosa manusia ini. Yang pertama manusia telah melakukan banyak dosa kepada-Nya, kedua Ia diharuskan mengorbankan putra-Nya dan terakhir Tuhan juga dituntut memberikan ampunan. Dan yang lebih tak masuk akal lagi; Dia harus mengorbankan “Kemuliaan Tuhan” karena menjadi manusia lemah selama 33 tahun.

Agar bisa masuk kepada daftar orang yang di-tebus dosanya dan dijamin keselamatannya, cukup ber-ikrar mengakui dengan iman bahwa “Yesus adalah Tuhan , yang telah menyerahkan tubuhnya untuk korban tebusan dosa manusia” . Dengan hanya melakukan itu , tiket ke sorga telah dapat anda kantongi. Dengan ketentuan baru dari Tuhan Yesus ini ; dapat dibayangkan ke-khawatiran yang dialami oleh milyaran roh yang telah wafat sebelum Yesus , tak terkecuali Adam , Ibrahim , Daud dan para Nabi lain yang semasa hidupnya tak pernah mengenal Yesus. Bagaimana nasip dosa-dosa mereka , apakah mereka akan dimasukkan kedalam daftar sekalipun mereka samasekali tak pernah ber-ikrar dan tak pernah mengenal Nama Yesus ? , atau mungkin mereka ini digolongkan kepada pengecualian ? , Gereja bisa saja menetapkan seperti itu , karena pengecualian ini memang tak pernah disebut dalam Al-Kitab.

Mozaik yang kedua kita ambil dari ayat-ayat lain dari AlKitab (sumbernya masih sama). Yang menarik adalah , kita juga bisa menyusun mozaik yang sangat kontradiksi dari gambaran cerita di atas . Secara sempurna kita bisa membuat resume lain yang berbeda. Ayat-ayat lain dalam Al-Kitab juga memberikan gambaran yang berbeda ; Yesus ternyata adalah mesias atau nabi sebagaimana nabi-nabi terdahulu. Sebagaimana Musa atau Nabi lain ia mengajarkan bahwa satu-satunya Tuhan yang berhak disembah adalah Allah , tidak ada yang lain. Yesus melaksanakan sembahyang , berpuasa , ber-do’a, di uji oleh Iblis dan banyak hal lain yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang Nabi utusan Allah. Dia disebut sebagai putra Allah bukan dalam artian harfiah atau biologis sebagaimana dipahami mozaik pertama tadi . Dalam kitab Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru banyak kita temukan penggunaan kata “anak-Allah” sebagai kata ganti untuk “hamba-yang saleh” , para Nabi , dan pengikut Yesus yang setia sering disebut sebagai Anak-Allah.

Pada saat itu ditengah kaumnya bangsa Israel, Yesus adalah satu-satunya “jalan menuju kepada Allah , jalan menuju kepada Kebenaran , jalan menuju kepada Kerajaan Sorga” , pernyataan ini dinilai sangat logis. Yesus adalah “jalan” atau “pintu masuk” untuk mendapatkan karunia Allah juga dapat dianggap wajar . Siapapun Bani Israel yang mengikuti jalan yang diajarkan oleh Yesus ; pasti akan beroleh keselamatan .Namun Yesus tak mungkin bisa dijadikan TUJUAN karena ia hanya seorang “juru selamat” , penunjuk jalan, bukan pemberi keselamatan, dia juga bukan sang pemilik keselamatan. Cukup banyak ayat-ayat dalam Al-Kitab sebagai dasar untuk membuat mozaik versi yang berbeda ini , bahkan untuk bagian ini akan lebih terlihat autentik dibanding ayat pendukung versi yang pertama (versi yang menobatkan Yesus sebagai Tuhan).

Sepanjang perjalanan pelayanan Yesus (yang hanya 3 tahun) ; pengajaran yang diberikannya kepada murid dan Bani Israel masih berkisar kepada hukum-hukum Taurat , bahkan Yesus sering di uji oleh para imam Yahudi tentang penguasaan Yesus terhadap Taurat , dia menjawabnya dengan jawapan yang sempurna . Di ujung jawapannya dia tak lupa memberikan nasehat agar pengetahuan Taurat itu harus di amalkan. Yesus dikenal oleh Yohanes Pembaptis sebagai pejuang untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan Taurat oleh kaumnya Yahudi. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang berhak disembah itu adalah Allah , Tuhan yang Esa.

Mengenai kematian Yesus di-tiang salib, para ahli sejarah membuktikan bahwa ketika Yesus diturunkan dari tiang salib ia masih dalam keadaan hidup. Alasan yang masuk akal dari versi ini mengingat keberadaan Yesus di tiang salib tidak lebih dari 3 jam saja , bandingkan dengan tradisi salib yang terjadi sebelumnya dengan memakan waktu hingga 1 minggu atau lebih. Dari sisi ke-muliaan Yesus di sisi Allah , do’a Yesus selalu dikabulkan Allah dan belum pernah yang di tolak (Mat-26: 36-44 ) , sehingga kematian di tiang salib adalah problem yang serius untuk “do’a seorang Yesus”.

Belum lagi dengan teori konspirasi Pilatus dengan serdadunya dan beberapa murid rahasia Yesus. Pada hakekatnya Pilatus sangat berkeinginan untuk membebaskan Yesus karena tak terpenuhinya syarat , dan permohonan sang-istri kepada diri-nya sebagai penguasa. Namun orang Yahudi terus mendesak Pilatus, sampai mereka mengancam sang Gubernur untuk dilaporkan kepada Kaisar. Pilatus menerapkan rencananya dengan memilih “hari & jam penyaliban” yang kurang dari 24-jam sebelum dimulainya Paskah, sebuah siasat yang cerdas untuk memenuhi permohonan istrinya.

Hipotesa ini didukung oleh bukti-bukti yang diambil dari Al-Kitab , dan malah lebih meyakinkan ketimbang cerita para murid yang tak pernah hadir di saat Yesus di salib. Para murid yang pernah berjanji kepada Yesus untuk setia justru melarikan diri dan bersembunyi untuk menyelamatkan diri mereka. Mereka bukan saksi mata yang menyaksikan apakah Yesus di salib sampai mati atau tidak , mereka hanya mendapat informasi dari cerita orang lain.

Sebelum Saifuddin mendapat kepastian atas “keselamatan” akibat berkah dari “Kematian Yesus” ; Saifuddin harus bekerja keras mencermati sejarah , untuk memastikan bahwa Yesus benar-benar telah mati di tiang salib. Fakta dalam Al-Kitab menunjukkan, para murid yang mengatakan Yesus telah mati di tiang salib adalah kesaksian yang tidah sah, karena mereka bukan saksi fakta, mereka tidak berada di tkp saat kejadian. Sementara orang-orang yang menyaksikan langsung proses “penyaliban Yesus” , tidak pernah mengatakan bahwa Yesus telah mati karena disalib.

Apabila Hipotesa ini menemukan kebenarannya bahwa Yesus memang tidak pernah mati di tiang salib; maka cerita “Penebusan Dosa” tentu sudah akan gugur dengan sendirinya. Dan Saifuddin Ibrahim harus lebih cerdas lagi , propaganda Yahudi yang mengatakan Yesus telah mati dan mayat-nya telah di-curi perlu diwaspadai. Yahudi berani merogoh kocek untuk menyuap serdadu Pilatus agar mengumumkan Yesus telah mati dan mayatnya sudah dicuri ; seharusnya Saifuddin Ibrahim mencermati lebih tajam lagi peristiwa penting ini. Terdapat benang merah yang tegas di dalam Al-Kitab , untuk menunjukkan kepada manusia berakal , bahwa Yesus tidak pernah mati di tiang salib. Dengan demikian ; keselamatan pasti seperti yang di-propagandakan Saifuddin Ibrahim adalah angan-angan belaka***

Berikan Komentar Anda

About Author:

www.akalsehatku.com