KRISTEN di ABAD PERTAMA (Yudeo-Christiani)

Kenapa Banyak Manusia yang Senang dengan Ajaran Paulus *** Peristiwa tobatnya Paulus adalah sesuatu yang perlu di apresiasi dan sekaligus tentu perlu di-curigai. Para pengikut ajaran Yesus ketika itu mendapat julukan sebagai sekte baru Yahudi, yaitu “Sekte Yahudi Nasrani”. Sekte baru ini telah menjalar kemana-mana keluar Yerusalem hingga ke wilayah Timur Dekat, termasuk ke SiriaAsyurMesopotamia,FenisiaAsia MinorYordania dan Mesir. Surat-surat yang ditulis Paulus ditujukan kepada para jemaat yang menganut faham Yahudi-Nasrani ini , karena bertentangan dengan apa yang Paulus ajarkan.

Paulus termasuk salah satu Imam Taurat yang termuda , cerdas dan bersemangat. Bersama Imam-imam senior Farisi lainnya, Paulus termasuk Yahudi Farisi yang keras mempertahankan ajaran Taurat versi Farisi . Mereka berkali-kali dicela oleh Yesus dan Yohanes dengan sebutan “ular beludak , munafik, keturunan setan, mabuk kesenangan duniawi , meng-ajarkan tapi tak mengamalkan , penghalang orang kepada jalan kebenaran” dan berbagai sebutan lain. Jadi kalau orang Nasrani modern saat ini meng-agungkan Paulus, pada kenyataannya Yesus & Yohanes justru telah mencela habis-habisan.

Paulus adalah seorang yang pintar dan piawai dalam bernegosiasi , ia berhasil memainkan status kewarganegaraannya sebagai WN-Romawi sekaligus Bani Israel dan Yahudi Farisi. Dalam menghadapi sebuah kasus tuduhan Orang Yahudi kepadanya, Paulus dapat terlepas dari rencana pembunuhan Orang Yahudi Yerusalem, dengan cara mohon banding dan minta diadili di Roma. Itulah sebabnya Paulus lebih dianggap sebagai Tokoh Utama dalam berbagai cerita di Injil ketimbang Yesus dan para muridnya.

Siapa Paulus :

Paulus lahir dan dibesarkan di kota Tarsus dari keluarga Yahudi di perantauan. Tarsus dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan kebudayaan di pantai Tenggara Asia Kecil. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu pusat berbagai agama dan filsafat terkenal seperti Mitraisme, Platonis, Stoic, dan Gnostisisme. Filsafat-filsafat Paganisme ini sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Tarsus . Upacara-upacara yang berkaitan dengan agama-paganism / filsafat-filsafat ini menjadi pemandangan yang lazim di mata Paulus sehari-hari. Para Ahli Arkeologi memperlihatkan bahwa Tarsus merupakan pusat kegiatan para penyembah Dewa Mithra sampai dengan masa keruntuhan Kerajaan (Romawi).

Para ahli telah mencoba meneliti, dan berhasil mengindentifikasi kecurigaan2nya terhadap sumber pemikiran Paulus terkait rekam jejak-nya di kota Tarsus tsb. Mari kita cermati empat kepercayaan(filsafat) Yunani yang tumbuh subur dalam masyarakat Tarsus , kota dimana Paulus dibesarkan. Selanjutnya kita tinjau pula ajaran Paulus yang kontradiksi dengan kompetitornya Yahudi-Nasrani melalui surat-surat yang ditulisnya.

Filsafat Mithraisme: Sejak zaman sebelum Yesus, orang-orang Romawi menyembah Dewa Matahari (Mithra) merayakan Hari Kelahiran Tuhan mereka yaitu tanggal 25 Desember, sejalan pergerakan Matahari yang muncul dari garis balik selatan menuju Utara. Inilah jawaban kenapa Umat Nasrani selalu merayakan kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Orang-orang Romawi menyembah Dewa Mithra pada hari Minggu (Inggris: Sun-day). Sun = Matahari. Day= hari penyembahan. Sunday= Hari penyembahan Dewa Matahari. Kemudian timbul pertanyaan, dari mana orang-orang Romawi memetik ajaran ini? , jawabnya jelas untuk penghormatan kepada Dewa Mithra ( Dewa Matahari ). Salah satu tanda yang paling jelas dari penyembah Mithraisme adalah ajaran untuk meminum darah sapi suci atau meminum secawan anggur sebagai perlambangan Darah. Ini melambangkan kebangkitan baru selepas dari kubur. Di kota Tarsus; Festifal menghormati Dewa Herakles yang mati dan bangkit kembali, yang mengorbankan darah lembu suci untuk kehidupan baru, senantiasa lewat di depan matanya Paulus setiap tahun. Untuk membuat adanya korelasi antara sumber inspirasi Mithraisme di atas dengan Ajaran Paulus, mari kita periksa pada : I Korintus 10:16, I Korintus 15:3-4, I Korintus 15:17, Mathius 26:27-28.

Filsafat Platonis,  Paul Tillich pakar sejarah pemikir Kristen dari Divinity School of university of Chicago, dalam bukunya A History Of Christan Thought menjelaskan secara detail faham Platonis yang berbunyi:( ..sukma yang jatuh dari kebersamaan abadi dimana dunia Roh, turun ke bumi dalam rupa manusia, kemudian berusaha melepaskan keterkaitannya dengan daging(tubuh), dan akhirnya mencapai tingkat yang lebih tinggi dari dunia kebendaan. Ini berlangsung secara bertahap, dan bertingkat. Untuk membuat adanya korelasi antara sumber inspirasi Platonis di atas dengan Ajaran Paulus, mari kita periksa pada : Surat-Surat Paulus (Filipi 2:6-11 dan I Korintus 8:6 ). Secara kental filsafat ini juga dianut oleh kaisar Nervaf (96-98 M) yang mendeklarasikan kepada khalayak sesuatu yang sangat mengejutkan : ”(Logos (Firman) yang bersama-sama dengan Allah sejak permulaan, dan adalah Anak Allah yang menciptakan segala sesuatu dan Olehnya segala sesuatu dijadikan, telah menjelma ke dalam diri Yesus dari Nazaret)”

Filsafat Stoic, Tarsus dikenal sebagai pusat filsafat Stoic. Filsafat ini menganut faham hikmah. Artinya segala sesuatu bencana yang menimpa diterima dengan mengambil hikmahnya. Filsafat stoic, menjadi lebih menarik diabad ketiga SM pada saat Yunani ditimpa berbagai macam bencana seperti kelaparan, perang saudara dan penindasan. Dengan memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah rencana “Yang Maha Kuasa” maka orang akan menerimanya dengan ikhlas. Salah satu faham Stoic lain , yang dianut Paulus adalah cosmopolitanisme yang tidak mebeda-bedakan suku bangsa.  Untuk membuat adanya korelasi antara sumber inspirasi Stoic di atas dengan Ajaran Paulus, mari kita periksa pada : Surat-Surat Paulus (Filipi3:20 dan Roma10:18)

Filsafat Gnostisisme, Gnostisisme mendukung dualisme roh dan materi. Gnostik percaya bahwa materi itu pada dasarnya jahat dan roh itu baik. Sebagai hasilnya, Gnostik percaya bahwa apa pun yang dilakukan dengan tubuh, dosa yang paling keji sekalipun, tidak ada artinya karena hidup yang sejati hanya didapati dalam dunia roh belaka. Pada umumnya penganut paham Gnostic dimana-mana membenci dunia dan daging(jasad). Menurut mereka, kalau dunia ini jahat berarti arsiteknya (penciptanya) yakni Roh-Tuhan pada Perjanjian Lama adalah jahat. Oleh sebab itu pemikiran Kristen yang dipengaruhi paham ini menganggap Roh-Tuhan pencipta alam di Perjanjian Lama adalah “jahat” dan sebaliknya Roh-Tuhan dalam Kristus adalah baik. Untuk membuat adanya korelasi antara sumber inspirasi Stoic di atas dengan Ajaran Paulus, mari kita periksa pada : Surat-Surat Paulus (2 Korintus 4:3-4 , Roma: 7:18 , Roma: 7:24, Roma 8:23, Galatia 3:3)

Yesus dan pengikutnya dalam masa kehidupannya, adalah musuh yang paling dibenci oleh Paulus. Dengan alasan peristiwa pertobatannya setelah didatangi Yesus dalam mimpi setengah sadarnya, Paulus berhasil membalikkan citra dirinya sebagai penerima mandat utama untuk keseluruhan ajaran Yesus. Seluruh rekam jejak Paulus yang gelab-gulita berubah seketika menjadi terang benderang setelah ia mendeklarasikan tobatnya. Kata dan kalimat Yesus yang pernah ada dan diterima banyak orang, tiba-tiba menjadi berbeda di tangan Paulus. Kata-kata “putih” yang diucapkan Yesus berubah menjadi kata-kata “hitam” ketika keluar dari mulut Paulus, anehnya semua orang bisa mengamini, termasuk oleh para Magisterium Gereja Katolik pada periode-periode berikutnya.

Pada masa sekitar 40-50M (pasca peristiwa-penyaliban); ajaran Yesus telah terbelah menjadi dua kelompok yang dikenal dengan “Yahudi-Nasrani” dan “Kristen pengikut Paulus”. Sekte dari kelompok Yahudi-Nasrani ini adalah kelompok yang mayoritas dan telah menyebar lebih dulu ke luar Yerusalem , kelompok ini didominasi oleh orang-orang yang sebelumnya Yahudi dan mereka masih berpegang teguh kepada Taurat , dan sama-sama beribadat dengan Yahudi di BaitSuci. Pada masa ini Injil Tertulis belum ada, yang ada adalah tradisi lisan . Baik Taurat maupun Ajaran Yesus disampaikan dalam tradisi dengan bahasa lisan. Namun surat-surat Paulus telah mulai tersiar kepada sebagian umat Kristen dari kedua kelompok ini. Artinya Injil dengan bahasa tulisan yang dipelopori oleh Paulus, merupakan cerita Yesus-Tertulis yang lebih awal mulai beredar dan dikenal orang. Kemudian baru muncul berbagai tulisan-tulisan Injil yang ditulis oleh orang-orang yang tak dikenal , sebagian besar dari tulisan-tulisan ini nantinya akan masuk kepada naskah apokrip.

Adalah  sangat  penting  untuk  mengetahui  fakta-fakta tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil lnjil itu ditulis  pada  suasana  persiteruan antara dua kelompok. Penyebaran teks  yang  kita  punyai  sekarang,  setelah diadakannya  perubahan-perubahan  dalam teks sumbernya, dimulai sekitar  tahun  70  M,  yaitu  waktu  bentrokan antara  kedua  kelompok yang bersaing. Pada waktu itu kelompok Yahudi-Nasrani  lebih  banyak.  Tetapi  dengan terjadinya  Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan jatuhnya  Yerusalem  pada  tahun  70,  keadaan  menjadi terbalik.

Kelompok Kristen pengikut Paulus yang kebanyakan berasal dari non-Yahudi (Agama Paganism), membuat pemahaman dan tradisi yang berbeda. Mereka mengusulkan suatu aturan yang melawan Taurat ; Konsili Yerusalem tahun 49M yang digagas Paulus  berhasil membebaskan  mereka  dari khitan  dan upacara-upacara Yahudi. Tentu saja orang-orang dari kelompok Yahudi-Nasrani tidak  setuju  dengan   praktek yang menyimpang ini.  Kelompok  ini kemudian memisahkan diri dari Paulus. Malahan  telah  terjadi  bentrokan  antara  Paulus  dan kelompok  Yahudi-Nasrani di Antiochia pada  tahun 49M itu.

Bagi Paulus, khitan, liburan  hari  Sabtu  dan upacara di BaitSuci tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi  sendiri.  Agama  Kristen harus  membebaskan diri dari hubungan politico religious dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil (yang bukan Yahudi), demikianlah propaganda Paulus kepada orang-orang Yahudi. Tetapi dalam  pandangan orang Yahudi-Nasrani yang tetap setia, kepada  ajaran  Yahudi,  Paulus   adalah   orang   yang berkhianat.  Dokumen-dokumen  mereka  mengatakan  bahwa Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan  taktik  dua muka;  tetapi  sampai  tahun  70M Yudeo—Christianisme (Yahudi-Nasrani) masih merupakan  “mayoritas   dalam   gereja”   dan   “Paulus merupakan   orang   yang terasing.”   Pimpinan  daripada masyarakat Yudeo-Nasrani adalah Jack (Yakobus), seorang saudara/kerabat Yesus.  Jack didampingi  Petrus(Kefas)  dan Yahya(Yohanes). Jack dapat dianggap  sebagai  tiangnya  Yudeo-Christianisme,  yang sengaja  setia  kepada  agama  Yahudi  menentang  agama Kristen yang dipimpin Paulus. Terdapat perbedaan pendapat mendasar antara Paulus dan Jack (James sang siddiq). Sementara Jack menjaga Gereja Yerusalem, Paulus menyampaikan ajaran ke Barat, khususnya kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Keluarga  Yesus  memegang peranan  dalam  Gereja  Yudeo-Christian  di  Yerusalem. Pengganti Jack  adalah  Simon,  anak  Cleopas,  saudara sepupu Yesus.

Pada tahun 66 M, pada masa pemerintahan kaisar Nero, orang Yahudi memutuskan untuk memberontak melawan Romawi seperti yang mereka lakukan di bawah pimpinan Makabe dan berusaha memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Nero mengirim salah satu jenderal minornya, yakni Vespasianus, yang kelak menjadi kaisar, untuk menghentikan pemberontakan. Ketika Vespasianus menjadi kaisar pada tahun 69 M, putranya, Titus, meneruskan tugas untuk menghentikan pemberontakan Yahudi. Titus memerangi orang Yahudi hingga akhirnya bangsa ini berhasil diporak-porandakan. Pada tahun 70 M, Titus juga menghancurkan Kuil Kedua Yahudi di Yerusalem, yang masih belum dibangun kembali. Orang Yahudi dan Kelompok Yahudi-Nasrani diburu , mereka terpencar dan melarikan diri keberbagai wilayah ke luar Yerusalem. Pada masa-masa berikutnya Kekristenan Paulus mendapatkan jalan yang semakin lapang , mereka sudah berani dan leluasa mengintervensi Yahudi dan Yahudi-Nasrani. Tulisan-tulisan yang tidak sejalan dengan ajaran Paulus mereka bakar atau mereka golongkan kepada apokrif.

Perhatikan cuplikan sejarah diatas karena akan erat kaitannya dengan pertumbuhan yang sangat drastis terhadap jumlah pengikut Paulus. Paska penghancuran BaitSuci dan berlanjut pada dekade-dekade berikutnya adalah masa emas untuk pengembangan ajaran Paulus, sekalipun dia sudah wafat.

Dari semua uraian di atas muncul pertanyaan ; kenapa Paulus bisa se-sukses itu dalam menanamkan ajaran sesatnya kedalam doktrin Kristen, sementara Yesus sendiri tak pernah kenal dan tak pernah bertemu dengannya. Dalam hal menyebarkan “Injil-Paulus” , prestasi Yesus sendiri sangat jauh tertinggal dibanding Paulus. Keajaipan apa yang dimiliki Paulus hingga dia mampu membius dan membutakan akal-fikiran ribuan orang di jamannya ? Jawapannya sesungguhnya adalah sangat sederhana : sebagai seorang Yahudi Farisi yang cerdas dan ulet , dia menggunakan ke-piawaiannya dalam menjalankan strategi dakwahnya. Penjelasannya sbb :

Point Pertama : dia tidak mengikuti jejak Yesus dalam memilih sasaran dakwahnya yaitu Bangsa Israel-Yahudi, tetapi Paulus justru memilih bangsa Romawi dan Yunani. Ini adalah pilihan yang cerdik bagi Paulus ,mengingat pengalamannya di Tarsus sebagai salah satu pusat budaya & beragam tradisi Romawi & Yunani. Ia sangat menguasai bagaimana karakter budaya & berbagai tradisi teologi dari bangsa-bangsa ini , termasuk kemampuan bahasa Yunani yang dimilikinya. Konsep Injil-Paulus dan Helenisasi sepertinya dapat dikonfigurasikan sehingga melapangkan jalan bagi dakwahnya.

Point Kedua: Paulus sangat sadar bila ajaran “monotheis” Taurat sebagai akidah Paulus selama ini  ;bila diterapkan kepada orang-orang Romawi/Yunani pasti akan mengalami jalan buntu. Sehingga peristiwa kematian Yesus di tiang salib , berita kebangkitannya serta tampilnya Roh Kudus , membangkitkan inspirasi tak terduga bagi dirinya. Akhirnya, benih dari konsep Trinitas menjadi resep yang paling jitu untuk di-konfigurasikan kepada “politheisme” yang di anut oleh Yunani/Romawi. Pilihan Paulus memang sangat brilian, terbukti pada tahun 325M diadakannya Koncili Nicea ; Ordo Kabbalah melalui Kaisar Konstantin, telah menggunakan kekuasaannya untuk menghapus injil yang tidak sejalan dengan ideologi Trinitas Paulus. Pada titik ini kelompok Kristen-Awal atau kelompok Yahudi-Nasrani telah sampai kepada ajal yang akan merenggutnya, para pengikutnya semakin menipis. Sebaliknya kelompok ke-Kristenan Paulus menyebar dengan cepat dan memisahkan diri dari kelompok Yahudi-Nasrani yang semakin terisolasi.

Point Ketiga: Ide “Pengampunan Dosa” dengan bermodalkan “Percaya” , adalah sesuatu yang ampuh untuk menarik minat banyak manusia, (maaf) tentu bagi manusia yang memang gemar dengan dosa-dosa itu. Dengan demikian definisi dosa sudah dapat di-degradasi kepada sesuatu yang tak perlu lagi ditakutkan. Taurat akan membuat orang takut dengan “dosa” , namun Paulus dapat menganulirnya dengan “pengampunan gratis” . Orang-orang Yunani & Romawi pada masa itu pasti tidak akan keberatan dengan ide semacam ini. Pada abad-abad berikutnya, yang senang dengan ajaran Paulus ini bukan hanya manusia kelas bawah , tapi lebih-lebih lagi adalah para petinggi-petinggi dan otoritas Gereja . Buktinya dalam PerjanjianBaru , mereka tanpa perdebatan panjang sepakat memasukkan ajaran dan surat-surat Paulus (14-Kitab dari Keseluruhan Kitab Perjanjian Baru(27-Kitab)) sebagai landasan utama doktrin Ke-Kristenan.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu, dan jangan lah mengatakan tentang Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih, Isa putera Maryam itu, hanyalah Rasul Allah dan kalimah-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh daripada-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu katakan:”Tri-tunggal !”, Jangan teruskan. (Itu) lebih baik bagimu. Sungguh, Allah adalah Tuhan satu, Maha Suci Ia dari mempunyai anak, kepunyaan-Nya segala yang di langit dan segala yang di bumi. Dan cukup lah Allah sebagai Pelindung”. (Qs. An-Nisa’ 4:171)

“Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.” (Qs. Al-Ikhlash 112:1-4)

Dr.Elfiedi Sofyan***

Berikan Komentar Anda

About Author:

www.akalsehatku.com